Langsung ke konten utama
Kembali ke daftar materi
Dasar K3 & Lingkungan

Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Mengenal jenis-jenis penyakit akibat kerja (occupational diseases), diagnosis, pencegahan, dan kompensasi pekerja.

Penyakit Akibat Kerja (PAK) atau Occupational Disease adalah penyakit yang disebabkan secara langsung oleh pajanan faktor-faktor risiko yang ada di tempat kerja. Berbeda dengan kecelakaan kerja yang terjadi secara mendadak, PAK bersifat kronis — muncul secara perlahan setelah berbulan-bulan hingga berpuluh-puluh tahun paparan.

Di Indonesia, daftar PAK diatur melalui Permenaker No. 1 Tahun 1981 dan Perpres No. 7 Tahun 2019 tentang Penyakit Akibat Kerja.

Ringkasan Cepat

  1. PAK berbeda dengan kecelakaan kerja — penyakit berkembang perlahan akibat paparan kronis
  2. Terdapat 4 kelompok utama penyebab: fisik, kimia, biologi, dan ergonomi
  3. Pencegahan melalui pengendalian sumber bahaya, bukan hanya APD
  4. Pekerja berhak mendapat kompensasi melalui BPJS Ketenagakerjaan

Jenis-Jenis PAK yang Sering Ditemui

1. Pneumokoniosis (Penyakit Paru Akibat Debu)

Kelompok penyakit paru-paru yang disebabkan oleh menghirup partikel debu mineral:

  • Silikosis: Akibat debu silika (pekerja tambang, sandblasting, pemotong batu). Paru-paru mengeras dan mengecil kapasitasnya secara permanen.
  • Asbestosis: Akibat serat asbes (pekerja konstruksi atap lama, insulasi pipa). Dapat berkembang menjadi kanker paru (mesothelioma).
  • Byssinosis: Akibat debu kapas/tekstil (pekerja pabrik garmen). Dikenal sebagai Brown Lung Disease.

2. Gangguan Pendengaran Akibat Bising (NIHL)

Noise-Induced Hearing Loss terjadi ketika pekerja terpapar kebisingan di atas 85 dB selama 8 jam kerja tanpa pelindung telinga. Kerusakan sel rambut koklea bersifat ireversibel (tidak bisa disembuhkan). Sektor berisiko tinggi: pertambangan, konstruksi, manufaktur, bandara.

3. Dermatitis Kontak Akibat Kerja

Peradangan kulit akibat kontak berulang dengan bahan iritan (deterjen industri, pelarut, semen basah) atau alergen (lateks, nikel, epoxy resin).

4. Gangguan Muskuloskeletal (MSDs)

Nyeri otot, sendi, dan tulang kronis akibat postur kerja buruk, gerakan repetitif, atau beban angkat berlebihan. Termasuk: carpal tunnel syndrome, low back pain, tendinitis.

5. Keracunan Logam Berat

Paparan kronis terhadap timbal (Pb), merkuri (Hg), kadmium (Cd), atau arsenik (As) melalui inhalasi atau kontak kulit. Dampaknya merusak sistem saraf pusat, ginjal, dan hati.

Diagnosis PAK

Untuk menetapkan suatu penyakit sebagai PAK, dokter harus membuktikan 7 langkah diagnosis:

  1. Menegakkan diagnosis klinis penyakit
  2. Mengidentifikasi pajanan yang dialami pekerja
  3. Menentukan hubungan pajanan dengan penyakit
  4. Memastikan pajanan cukup besar/lama
  5. Menilai faktor individu pekerja
  6. Mencari faktor lain di luar pekerjaan
  7. Menyimpulkan diagnosis akhir PAK

Pencegahan PAK

  • Eliminasi/Substitusi: Ganti bahan berbahaya dengan yang lebih aman
  • Ventilasi & Exhaust: Pasang sistem penghisap debu/uap di sumbernya
  • Rotasi Kerja: Batasi durasi paparan per pekerja
  • Pemeriksaan Kesehatan Berkala: Medical check-up rutin (MCU) khusus sesuai risiko pekerjaan
  • APD Spesifik: Respirator, sarung tangan tahan kimia, ear plug/earmuff